Pengantar
 

Pengantar

Sejarah desentralisasi menunjukkan bahwa kebijakan desentralisasi bukan berasal dari isu teknis kesehatan. Desentralisasi merupakan konsep dalam tata pemerintahan dan hubungannya dengan masyarakat. Oleh karena itu dasar konsepsual modul ini adalah Good Governance dengan suatu tatanan di masyarakat madani yang terdiri dari masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha.

Dalam konteks Good Governance , dimanakah peran pemerintah dalam sektor kesehatan? Kovner [1] (1995) menyatakan bahwa peran pemerintah ada tiga, yaitu (1) regulator , (2) pemberi dana; dan (3) pelaksana kegiatan. Peran sebagai pemberi dana jelas dapat diartikan. Sementara itu, peran sebagai regulator dan peran sebagai pelaksana sering menjadi perdebatan. Di dalam sektor kesehatan Indonesia ada berbagai lembaga pemerintah yang beroperasi. Peran sebagai pelaksana dilakukan misalnya oleh rumah sakit pemerintah pusat atau daerah, pusat kesehatan masyarakat, laboratorium kesehatan, Bapelkes, sampai ke pemberi pelayanan promotif dan preventif. Peran sebagai pemberi sumber pembiayaan dapat dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah. Peran sebagai regulator pelayanan kesehatan dapat dilakukan oleh Departemen Kesehatan di pemerintah pusat untuk sistem kesehatan di Indonesia ataupun dinas kesehatan provinsi atau kabupaten/kota.

Dalam konteks Good Governance, modul ini menggunakan konsep berpikir bahwa kebijakan desentralisasi dengan berbagai perubahan hukum mempengaruhi peran pemerintah sebelum mengenai masyarakat dan pelaku usaha. Secara diagram kerangka berpikir secara luas dapat digambarkan sebagai berikut.



Gambar 1 memperlihatkan bahwa kegagalan pemerintah untuk menterjemahkan kebijakan desentralisasi menjadi perubahan-perubahan penting dalam fungsi pemerintah dapat memperlemah usaha peningkatan status kesehatan masyarakat.
Sebagai contoh, kegagalan peran pemerintah dalam mengembangkan surveillance penyakit di era desentralisasi dapat menyebabkan menurunnya status kesehatan masyarakat.
Dengan mengacu pada konsep tersebut ada berbagai Blok dalam modul ini:

Blok 1. Pemahaman konsep desentralisasi dan kebijakannya
Blok 2. Hubungan antara pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten kota
Blok 3. Hubungan Lintas Sektoral, Swasta dan Partisipasi Masyarakat
Blok 4. Reformasi Sektor Kesehatan di Indonesia ( Kasus-kasus di 7 propinsi DHS1)
Blok 5. Perencanaan berbasis Skenario untuk Reformasi Kesehatan di Indonesia

kembali ke atas
Mengapa Menggunakan Pendekatan ”Belajar Berbasis Kasus”?


Hakekat manajemen adalah menyelesaikan masalah dan membuat keputusan. Oleh karena itu dalam pendidikan dan pelatihan manajemen, pendekatan yang baik adalah proses yang mampu meningkatkan kemampuan peserta untuk menyelesaikan masalah dan membuat keputusan. Di dalam pendidikan manajemen, Problem Based Learning (PBL) sering dipergunakan sebagai pendekatan proses pelatihan. Pendekatan ini sering disebut pula sebagai “Case-method”. Dalam pendekatan ini, peranan instruktur lebih sebagai fasilitator daripada sebagai guru. Disamping fasilitator ada pula narasumber sebagai pemberi penjelasan mengenai konsep-konsep kunci. Secara umum pendekatan PBL merupakan proses dinamis dan berorientasi pada peserta.

Ada berbagai keuntungan menggunakan model Case-Method.

  • Peserta pendidikan akan langsung menangkap hubungan antara materi pelatihan dan masalah-masalah nyata yang harus diselesaikan.

  • Pelatihan keseluruhan merupakan proses yang dinamis, hidup, dan menarik.

  • Proses belajar akan dinamis, yang akan difasilitasi oleh diskusi kelompok dan fasilitator/ keynote speakers yang tidak memberi kuliah saja.

  • Materi pendidikan dapat diangkat langsung dari persoalan nyata atau buatan, yang disusun untuk mencapai tujuan spesifik.

  • Para peserta dapat belajar mandiri dan menggunakan kasus-kasus serupa di tempat masing-masing

  • Hasil akhir adalah penguasaan konsep-konsep dasar untuk memahami masalah, prosedur untuk mengatasi masalah atau cara lain tergantung pada tujuan pendidikan

kembali ke atas
Cara Belajar :
  1. Peserta membentuk kelompok kecil yang beranggotakan sekitar 5 orang. Mengapa 5? Hal ini dilakukan agar para peserta dapat lebih mudah berkumpul, misal di bangku-bangku tunggu, kantin, ataupun di rumput untuk membahas kasus. Pembahasan kasus dilakukan di luar dan di dalam kelas.

  2. Para peserta dalam kelompok kecil melakukan:

    • Melakukan identifikasi konsep-konsep yang ada di balik kasus yang dibaca. Konsep-konsep tersebut diambil dari berbagai bacaan yang terdapat dalam modul (Modul Bacaan) dan bacaan lain di luar, serta sumber-sumber referensi di Internet.
    • Hasil diskusi berupa makna konsep yang diidentifikasi dan referensi ditulis untuk didiskusikan bersama.
kembali ke atas
Isi Tiap Blok
  • Blok I s.d III menggunakan pendekatan proses pelatihan "Problem Based Learning (PBL)"

  • Blok IV dan V tidak menggunakan pendekatan proses pelatihan "Problem Based Learning (PBL)

kembali ke atas
Isi Blok I-III
  1. Tujuan Pembelajaran

  2. Peta Kasus-kasus

  3. Identifikasi konsep-konsep penting di balik kasus-kasus yang dipelajari

  4. Pemuka konsep-konsep

  5. Pembahasan kasus berdasarkan konsep-konsep yang dikuasa

kembali ke atas
Isi Blok IV
  1. Tujuan Pembelajaran

  2. Situasi Sektor Kesehatan di 7 Propinsi

  3. Analisis Berbasis Konsep Berman

  4. Analisis Integrasi Reform antar Tingkat Pemerintah

kembali ke atas
Isi Blok V
  1. Tujuan Pembelajaran

  2. Pendekatan Skenario dalam Perencanaan

  3. Perencanaan Skenario Health Sector Reform Berdasarkan Lingkungan Ekonomi

  4. Gambaran Skenario secara Garis Besar di Berbagai Daerah

  5. Catatan Akhir

kembali ke atas
[1] Kovner A.R.(1995). Health Care Delivery in the United States . Springer Publishing.

copyright DHS @2005