![]() |
||||||||||||||
|
|
||||||||||||||
|
|
||||
Model pembelajaran dengan menggunakan table-top ini dimaksudkan untuk menguji respons system pelayanan kesehatan dan tata pamongnya (governance) terhadap terjadinya bencana. Berbagai respons system pelayanan kesehatan mencakup: tata aturan dalam manajemen bencana, hubungan antar pelaku dalam bencana, sistem komunikasi antar lembaga dan perorangan, dan tersedianya persiapan secara struktural dalam menghadapi bencana. Diharapkan latihan ini dapat diikuti oleh Dinas Kesehatan, PMI, berbagai LSM di sektor bencana, serta lembaga pemberi pelayanan kesehatan. Semakin lengkap wakil-wakil lembaga yang ikut pelatihan ini maka akan semakin baik. Secara singkat tujuan pelatihan ini untuk:
Proses Pembelajaran yang dilakukan ialah sebagai berikut.
|
||||
|
Terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 SR pada Sabtu, 27 Mei 2006, jam 05.53 WIB yang berpusat di wilayah Kabupaten Bantul dengan kedalaman 33 km. Ribuan nyawa melayang, ratusan ribu rumah hancur, ratusan sekolah roboh, puluhan puskesmas/pustu/RS/sarana pelayanan kesehatan rusak berat. Korban jiwa dan kerusakan terbanyak ada di Bantul. Kekacauan terjadi, sistem komunikasi terganggu, listrik di berbagai tempat padam dan kebetulan sedang hari libur panjang (long weekend). RS, Puskesmas Perawatan, dan Klinik yang buka diserbu korban yang berjumlah puluhan ribu. Di tengah kekacauan tersebut tersebar isu terjadi tsunami yang menambah kacau suasana. Pemda termasuk Dinas Kesehatan Bantul membuka posko di rumah dinas bupati. Pada pukul 06.30 WIB sudah bisa dilakukan koordinasi antar instansi pemerintah tapi mengalami kesulitan karena alat telekomunikasi macet (crowded) dan juga banyak pegawai dan tenaga kesehatan yang menjadi korban. Dengan kondisi yang sangat terbatas Dinas Kesehatan Bantul membuka 4 posko yaitu Rumah Dinas Bupati sebagai posko utama (Satlak), RS Panembahan Senopati, Gudang Farmasi, dan lapangan Dwiwindu. Bantuan mengalir melalui modal pertemanan berupa bantuan tenaga medis, obat-obatan, bahan makanan, pakaian, dll. Di berbagai tempat kelompok-kelompok masyarakat aktif untuk menolong sesamanya. Kebetulan sudah banyak yang mempersiapkan diri untuk meletusnya gunung Merapi. Keadaan sangat memprihatinkan terutama karena adanya ancaman gempa susulan yang cukup besar. Banyaknya pasien yang terpaksa dirawat di halaman-halaman RS menimbulkan pemandangan yang sangat menyedihkan. RS berubah bak tempat perawatan korban perang. Di posko Rumah Dinas Bupati, Kepala Dinas Kesehatan mengkoordinasikan bantuan yang mulai berdatangan. Tim medis yang datang kemudian dikirim ke lokasi-lokasi yang membutuhkan bantuan. Karena keterbatasan, tim-tim ini berangkat tanpa disertai peta lokasi maupun pengantar lokal, padahal kebanyakan dari mereka tidak berasal dari Jogja. Yang cukup menarik, posko kesehatan utama yang ada di rumah dinas bupati terletak di tengah-tengah Posko Satlak Gempa, sehingga masyarakat yang datang untuk meminta atau memberi bantuan logistik umum (makanan, tenda, dll) langsung menuju meja kesehatan, sementara belum ada koordinasi dan pembagian tugas yang jelas pada Posko Satlak. Banyak juga anggota masyarakat yang meminta obat-obatan P3K secara personal. Hampir seharian petugas di posko tidak makan karena tidak ada warung yang buka dan belum ada logistik/dapur umum untuk petugas. Pada hari kedua Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten melakukan penilaian ke sarana pelayanan kesehatan dan melakukan distribusi makanan balita dan obat-obatan. Koordinasi dengan Dinas PU dilakukan untuk menyusun sistem pembuangan sampah dan limbah medis. Kebutuhan obat-obatan dan alat medis mulai disusun. Saat itu ada perintah (yang tidak jelas dari mana datangnya) untuk mengevakuasi pasien ke RS di luar Jogja namun keadaan tidak memungkinkan. Kemudian diputuskan yang penting adalah membuka sebanyak mungkin tempat operasi darurat di lapangan. Klinik-klinik yang bangunannya relatif utuh segera diubah statusnya menjadi RS lapangan. Bantuan dari luar Jogja dan luar negeri semakin banyak yang berdatangan, akhirnya koordinasi mulai dapat berjalan. Yang juga cukup menghebohkan adalah selain masyarakat yang meminta atau memberi bantuan di Posko Satlak, banyak juga pihak yang mencari data maupun berita, baik dari Depkes, LSM, wartawan, dan semuanya harus dilayani. Pada hari ketiga, Senin, 29 Mei 2006, libur panjang telah selesai, kantor-kantor Pemda mulai dibuka meski hanya menggunakan tenda. Kondisi kantor Dinkes Bantul juga rusak berat, dan apel pagi hanya dihadiri separuh dari seluruh jumlah staf. Staf yang datang kemudian dibagi menjadi beberapa tim, yaitu tim surveillance, tim logistik, tim assesmen kerusakan saryankes dan lingkungan, tim medis keliling, dan masih banyak lagi. Operasionalisasi penanganan bencana membutuhkan dana yang tidak sedikit, untuk itu Dinkes Bantul mencoba meminta dana bencana (tak tersangka) kepada Pemda, namun diminta untuk membuat perencanaan secara mendetail terlebih dahulu. Demikian juga saat mencoba meminta ke propinsi, tetap diminta untuk membuat SPJ terlebih dahulu. Rapat koordinasi resmi mulai dilakukan di sektor Kesehatan. Bagian IKM FK UGM sebagai komponen masyarakat melakukan beberapa hal, yang meliputi pemetaan, persiapan surveillance, persiapan infrastruktur telekomunikasi, buletin harian dan memfasilitasi pertemuan-pertemuan. Diambil kebijakan bahwa semua pasien dilayani dengan gratis. Pemberian uang muka bagi RS-RS yang memerlukan diambilkan dana dari Bapel Jamkesos. Kegiatan di masyarakat semakin banyak, tim dari luar negeri juga semakin banyak yang berdatangan. Relawan banyak bertebaran di mana-mana, kebutuhan akan tenaga juga banyak, tetapi tidak diketahui dengan jelas bagaimana spesifikasi dan cara memanfaatkan mereka. Pada Rakor rutin satlak pada malam harinya, ada laporan bahwa terdapat 15 jenazah di beberapa RS yang belum teridentifikasi keluarganya dan mulai membusuk. Sekda memerintahkan Kadinkes Bantul untuk mengurusnya, sayangnya Kadinkes bingung tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi ini. Hari-hari berikutnya, kondisi mulai terkendali dan tertata sedikit demi sedikit, ...................................... Kepemimpinan Bupati Bantul yang selalu menyemangati jajarannya dan masyarakat untuk bangkit kembali dengan semboyan BANTUL BANGKIT berhasil mempengaruhi pola pikir, pola sikap, dan pola tindak masyarakat sehingga dalam waktu 1 tahun keadaan hampir pulih. Pertanyaan 1. Siapa yang harus menjadi koordinator bencana di sektor kesehatan? Dari pemerintah, swasta, atau LSM? Atas dasar hukum apa koordianator bencana tersebut? Kapan sebaiknya koordinator ditunjuk? Sebelum atau setelah terjadi bencana? 2. Bagaimana pembagian tanggungjawab dan wewenang antara Pemerintah dan Pemda dalam era desentralisasi? 3. Bagaimana sistem pembiayaan pada masa emergency ? Dari mana sumbernya? Bagaimana prosedur pencairan dana bencana dan penggunaan di daerah kabupaten/ kota? 4. Bagaimana pengelolaan bantuan bencana? 5. Bagaimana gaya kepemimpinan yang cocok dalam situasi bencana? 6. Bagaimana struktur tim yang baik yang dapat melibatkan beberapa pihak? 7. Apa saja pengetahuan, ketrampilan, dan dokumen yang dibutuhkan dalam penanganan bencana? |
||||
Copyright PMPK @ 2007 |