payday loans
   
Para Calon Dokter Itu Sombong Sekali PDF Print E-mail
Written by admin   

Thursday, August 19, 2010 8:14 AM "Billy N." <billy@mediator.web.id>

http://kesehatan.kompasiana.com/group/medis/2010/08/19/para-calon-dokter-itu-sombong-sekali/

Para Calon Dokter Itu Sombong Sekali

Berbeda sekali. Sombong sekali. Eksklusif. Ya, itulah kesan yang saya dapatkan melihat tingkah laku beberapa muda-mudi berjas putih dengan sulaman nama berwarna hijau di bagian dada kanan jasnya itu. DOKTER MUDA. Begitu tulisan yang tertera di situ. Mafhum dengan suasana akademis yang sangat terasa di RS itu karena memang dekat dengan kampus Fakultas Kedokteran UGM, tidak serta merta membuat saya mengerti keadaan. Bagaimana tidak, selama kurang lebih satu jam saya duduk di ruang tunggu klinik bagian THT, pemandangan yang paling laris adalah mondar mandirnya para CO-AS (tolong dibenarkan kalau ejaannya salah) berjas putih, berpenampilan kelas tinggi lengkap dengan Blackberry di tangan beberapa di antara mereka. Mungkin situasi ini terkesan normal jika saja tidak terjadi apa yang saya istilahkan dengan EKSKLUSIFITAS dan KESENJANGAN. Sekitar 10 orang mahasiswa berjas ala dokter muda itu hanya mondar mandir di koridor ruangan klinik itu, memainkan perangkat seluler, dan cuek. Bahkan pasien seorang nenek tua pun yang sedari tadi duduk dan nampak pusing sendiri memperhatikan mereka yang bolak balik seperti tanpa pekerjaan, tidak digubris apalagi disapa. Terlebih lagi, di dekat situ ada meja kecil tempat 3 orang berpakaian sama putih namun lebih sederhana, nampaknya mereka petugas kuliah lapangan mahasiswa ilmu keperawatan atau semacamnya. Tugas mereka bertiga nampaknya hanya sekedar memeriksa tensi pasien yang baru masuk, dan urusan administrasi berkas. Nah, saya yakin mereka bertiga tenaga keperawatan ini sudah lebih lama “berdinas” di sini , namun jangankan sapa, sebuah senyuman pun tidak mereka dapatkan dari sepuluh orang “dokter muda” yang bolak balik itu.
Eksklusifitas kelompok memang rumit. Di saat beberapa orang berkumpul hanya dengan orang-orang sekelas mereka, maka butuh kebesaran hati lebih untuk bergabung cerita dengan orang-orang yang lebih sederhana.
Butuh alasan khusus mungkin.
Semangat muda para calon dokter ini sepertinya masih menyala-nyala.
Mereka masih lebih suka nongkrong dan berbicara ini itu sambil tertawa-tawa di depan orang-orang di sekitar mereka. Beberapa di antara mereka memang menunjukkan tingkah laku “tidak enak” dengan sesekali melihat keadaan pasien, namun yang lainnya nampak menikmati apa yang di benak mereka dianggap sebagai “Profesi yang Spesial karena dicapai dengan pengorbanan yang besar”: Dokter.
Tapi tetap saja, saya kurang nyaman melihat pemandangan ini, apalagi di sebuah rumah sakit umum yang difavoritkan oleh kebanyakan kalangan menengah ke bawah (walaupun harga pelayanannya masih selangit).
Karena ini pulalah saya jadi lebih simpati kepada dokter-dokter tua, maksudnya yang lebih berpengalaman dengan jam terbang sosial yang jauh lebih banyak. Karena menurut saya, menjadi seorang dokter tidak hanya terpaut pada hal-hal anatomi fisik, tapi juga perasaan dan pandangan interpersonal.
Kondisi makro saat ini yang menjadikan seorang dokter adalah investor yang paling rela berkorban materi demi sebuah pengakuan status profesi, menampakkan kesenjangan pelayanan sosial. Alasannya? Ya karena fakta di negara kita sebagian besar masyarakat penikmat pelayanan kesehatan adalah kalangan menengah ke bawah. Di beberapa kasus orang miskin lebih butuh pelayanan ramah di RS daripada orang yang bersedia membayar lebih.
Lalu, bagaimana kita menyiapkan calon dokter masa depan yang bisa menyentuh masyarakat secara simpatik?
Saat ini, penampakan di beberapa RS dan sekolah kedokteran justru meyakinkan kita bahwa seharusnya jaminan kesehatan masyarakat bisa dipulihkan dalam beberapa tahun ke depan. Mengapa? Lha dokter sekarang sudah banyak berseliweran kok!
Jangan sampai menjadi seorang dokter hanya didasari kebutuhan status akademik dan profesi semata. (semoga ini cukup menjadi kritik sosial demi perbaikan)

Thursday, August 19, 2010 10:30 AM "muhammad abduh" <abduh.muhammad@gmail.com>

Mungkin karena mereka merasa sudah mampu bayar mahal kali ya...

Thursday, August 19, 2010 12:05 PM "cahya prihantama, S.KM." <cah_904@yahoo.co.id>

Perilaku semacam itu saya rasa tidak berlaku untuk keseluruhan. Namun demikian memang tidak dipungkiri jika kenyataannya seperti itu. Profesi dokter yang mulia hendaknya tidak menjadi dasar untuk bersikap tidak wajar. Mungkin sebaiknya penilaian terhadap co-ass juga menyangkut aspek afektif terhadap pasien maupun masyarakat.

Thursday, August 19, 2010 12:43 PM "abdul haris" <haris0405@yahoo.co.id>

Dear Pak Billy dan Rekan2 semua
Jika kita ingin jujur, sikap seperti itu adalah produk dari sistem pendidikan kita yang lebih berorientasi pada Input yang mampu membayar bukan Input yang mau melayani. Mungkin ada baiknya pada masa yang akan datang Input sistem pendidikan kita lebih dititikberatkan pada kemapuan akademis dan psikologis. Sedangkan kemapuan Fiancial calon mahasiswa baru menjadi bahan pertimbangan berikutnya. Demikian sekedar sharing dari saya.

Thursday, August 19, 2010 2:09 PM "flp sitorus" <flpsitorus@yahoo.com>

Dear Pak Billy, Pak Harris & all:
Saya tergelitik membaca kisah kesombongan adik2 Co-Ass ini.  Perilaku yg Pak Billy lihat itu memang kurang wajar utk suasana rumahsakit.Tetapi, marilah kita coba renungkan sejenak mereka itu siapa. Anak2 muda itu adalah kutu buku (krn dijejali tugas laporan, responsi,dll mau tak mau hrs banyak baca buku/jurnal), rata2 berasal dari kaum gedongan; waktu mrk bertemu dgn teman (padahal umurnya msh membutuhkan bersosialisasi) sangat terbatas; bahkan utk istirahat mrk terbatas.Tempat mrk bertemu juga terbatas krn mrk terdesak kelompok PPDS. bahkan saat menjalankan tugas Co-Ass hrs berebut kesempatan memeriksa pasien.
Rumahsakit adalah tempat padat penderitaan, padat tangis, padat tawa, padat keluhan, padat masalah, padat biaya dan padat tenaga profesional (dan calon profesional) dan salah satunya adalah para Co-Ass calon dokter itu.
Para Co-Ass sombomg; dibandingkan apa, dibandingkan calon sarjana apa atau dibanding Co-Ass dimana?.
Saya sarankan; sebelum kita mendakwa mrk sbg mahluk sombongcobalah bersama mrk selama 1 minggu saja siang malam; saya yakin tanpa diminta kita akan mencabut dakwaan sombong itu. lagipula, seandainya mrk terlihat sombong sekarang; biarlah begitu krn itu hanya sementara saja.  Saya cenderung memberikan mrk waktu menikmati "sombong" sesaat; krn begitu mrk lulus; diminta atau tidak, dinasehati atau tidak, kesombongan mereka akan luntur sendiri oleh realita yg akan mrk hadapi sbg dokter muda di negara tercinta ini setelah mereka terjun ke desa2. Saya katakan ini krn saya tahu rasanya jd Co-Ass yg dituduh sombong, dan saya tahu rasanya "kesombongan" yg tak berguna dan runtuh ketika mengabdi didesa.
Kalau kita sebut adik2 itu sombong; menurut saya kitalah yg terlalu sombong utk mengakui bhw kita cepat sekali mengadili mereka sbg sombong.Dan bukankah dewasa ini lagi trend untuk cepat memposisikan diri jadi hakim bagi orang lain tanpa mau memahami kondisi sebenarnya...?

Thursday, August 19, 2010 2:40 PM "hernawan widjajanto" <hernawandrg@yahoo.com>

kalau saya lihat sih kesannya memang sombong,,tapi cukup maklum juga, karena mungkin perasaan bangga bisa memakai jas putih yang belum lama dipakainya..dan dipanggil dokter..sebuah sebutan yang sangat wah..
di tahun-2 pertama setelah mengabdi sebagai dokter biasanya masih ada yang kelihatan sombongnya...tetapi semakin lama mengabdi tampilan sombongnya memang menurun..dan ada sedikit sekali yang tetap sombong...dan yang sedikit ini dalam pengabdian biasanya dinilai 'gagal'..

Thursday, August 19, 2010 3:12 PM "flp sitorus" <flpsitorus@yahoo.com>

Pak Hermawan yth,
Penilaian Pak Hermawan cukup adil. Saya jg katakan bhw mrk msh muda2, msh merasa bhw mrk gol elit (krn belum menghadapi kehidupan dokter umum muda yg sebenarnya). Jadi, kesombongan mrk msh wajar utk kondisi dan umur mrk.Pada akhirnya, kesombongan itu akan luntur sendiri; yg seandainya tdk luntur juga (spt kata Pak hermawan dan jg apa yg saya lihat); mrk akan gagal dan dijauhi masyarakat.
Kesombongan Co-Ass tunjukkan spt topik ini, juga dialami mahasiswa Semester I Fak Kedokteran. Saya ingat dulu ketika mhs SM-I thn 1976 di FKUSU. Masih belajar Fisika, Kimia Organik, Biologi Umum; tetapi banyak teman rajin pinjam buku ke Perpustakaan. Meski punya mobil atau motor; rata2 pulang kuliah naik angkot; pamer Jaket Mhs FK dan mengepit text-book setebal bantal. Itu biasanya berlangsung 6 bulan. Ketika dibantai ujian Kimia Organik dan Biologi dan gak lulus; kesombongan langsung runtuh (para senior bilang, pemandangan spt itu lazim 6 bulan). Ha hahah
Saya kira fenomena ini biasa-biasa saja. Percayalah, kalaupun boleh dan pantas anak2 Co-Ass itu disebut "sombong", apa salahnya mereka menikmati keindahan kesombongan sesaat masa peralihan remaja ke dewasa muda. Tokh mereka juga akan menghadapi penderitaan hidup seorang dokter umum muda didesa yg sering kalah bersaing dengan Bidan Desa (dimana akan terjadi: pasien miskin ke Bidan Desa, pasien kaya ke spesialis, pasien sedang-an ke RSUD).
Jadi biarkanlah mrk "sombong" sesaat. Kalaupun keterlaluan, mrk juga akan dibantai seniornya dan para PPDS serta perawat senior bangsal yg bersikap mahakuasa.
Saya yakin, orang yg mengatakan adik2 Co-Ass itu sombong adalah orang yg tdk memahami pendidikan Kedokteran. Kalau mau tahu "sombong" yg sebenarnya, cobalah ikuti barang seminggu penderitaan seorang PPDS Obsgyn semester I; dan laporkan apakah dokter muda itu msh bisa sombong ketika melayani seniornya agar kecipratan ilmu dari seniornya di bangsal. He he he. Salam hormat tidak "sombong".

Friday, August 20, 2010 2:11 AM "abdul haris" <haris0405@yahoo.co.id>

Yth Pak Sitorus
saya rasa semua orang berhak sombong. Tidak ada peraturan di negara ini yang melarang untuk sombong. Tapi manakala sudah dihadapkan pada pelayanan masyarakat, suka tidak suka, mau tidak mau harus ada standar pelayanan minimal.
saya rasa masalah co-as di rumah sakit seperti yang diulas di Kompas itu lebih disebabkan oleh SOP yang tidak jelas. Itu hal yang bisa diperbaiki secara manajemen. Coba jika co-as nya di rumah sakit yang memilik peraturan dan SOP yang jelas, mungkin ceritanya akan lain.
Tulisa di Kompas yang diforward oleh Pak Billy itu juga wajar. Saya rasa itu adalah jeritan dari pasien atau keluarga pasien yang berada dalam posisi lemah jika sudah berada dalam lingkup pelayanan masyarakat di negeri ini. Bukanlah suatu kesombongan bila pasien mengeluh jika pelayanan yang diterimanya kurang memuaskan ataupun tidak layak. Bukankah kritik dan saran juga yang bisa membuat kita lebih baik lagi.
Sekedar saran saya. Siapapun kita, tidak layak untuk sombong. Walaupun sekedar membanggakan bahwa kita tidak sombong.

Friday, August 20, 2010 4:02 AM "flp sitorus" <flpsitorus@yahoo.com>

Yth Pak Harris,
Setuju. Dan bukankah SOP yg minim yg selalu menjadi isu hangat masalah di RS?. Tidak saja RSUD, RS Swasta; bahkan RS Pendidikan masih memerlukan penyusunan atau updating ratusan bahkan ribuan SOP.Padahal selain Co-Ass masih banyak tenaga yg terlibat di RS Pendidikan mis: Gizi, analis, farmasi, rad, Bidan, perawat, dll.
Mudah2an keriuh-rendahan pelayanan RS bs sedikit lebih tertib dgn kelengkapan SOP dan kerelaan semua pihak terkait mematuhinya.
Terimakasih.

Saturday, August 21, 2010 1:15 PM "yudopuspito trijoko" <tyudop@yahoo.com>

He he he, asyik juga membaca komentar awam tentang dokter muda; juga pembelaan pada pendahulunya.
Saya jadi teringat masa muda 20-an tahun yang lalu yang tidak sempat menikmati masa 'sombong' tersebut, karena masa itu harus menjadi kernet angkutan kota untuk mencapainya dan  menjadi tukang kebun (salah seorang dosen baik hati yang sudah almarhum) atau jualan nasi goreng agar bisa tetap sekolah alias co-schaap, kenangan yang jauh lebih indah dari sekedar 'sombong' itu.
Biarlah itu jadi sejarah kecil bagi para dokter muda itu sekalipun mereka tidak menyadarinya; karena masih banyak yang jauh lebih sombong lagi di masyarakat saat ini, termasuk penulis 'gendu-rasa' tersebut. he he he, sombong kok jadi topik he he he

Monday, August 23, 2010 1:18 AM "tri harnoto" <triharnoto@yahoo.com>

Siapa yang mendidik dokter?
Bukankah yang menddik dokter juga dokter?

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari
Begitu kata pepatah....

Semoga pendidik pendidk dokter tidak pernah luntur untuk mendidik calon dokter menjadi dokter yang baik.....

Sunday, September 5, 2010 10:31 PM "dinkes Gk" <dinkesgk@yahoo.com>

Mungkin cerita ini bisa membuat kita berempati :
Mohon ijin mas Andy Ardiansyah; UGM-ers 2003

(Catatan Dokter PTT-Chapter 5):
Mereka Didzalimi oleh Orang-Orangnya Sendiri
pada 03 September 2010 jam 13:48

Sebenarnya tidak ada rencana sama sekali dalam benak saya untuk menulis note ini. Catatan harian ini saya buat di penghujung Juli 2010 di tengah keletihan yang sepertinya sudah memuncak, setelah sebuah kabar yang baru saya terima malam ini membuat saya yang sedang bedrest karena sedang dalam terapi Malaria hari ke-2 ini tinggal bisa merasakan 2 hal: LELAH dan MARAH.
2 hal yang membuat saya ingin menumpahkan smua uneg2 kepada teman-teman semua. Mudah-mudahan suatu saat nanti saya ke kota dan meng-upload note ini, cerita ini sudah berakhir dengan penyelesaian yang bagus. Mudah-mudahan mereka yang berkepentingan sudah dibukakan matanya.
Saya berharap hal semacam ini hanya terjadi di sini. Karena jika sampai hal-hal semacam ini masih terjadi di pulau lain, maka lebih baik negara ini kembali menjadi negara jajahan saja, karena negara macam apa yang bahkan mengatur dirinya sendiri saja tidak bisa..?!?

Cerita bermula bulan Maret yang lalu, ketika saya menikmati bulan-bulan terakhir kontrak saya di Papua. Kepala Dinas meminta saya untuk pindah tugas ke Puskesmas lain, Puskesmas induk dengan fasilitas rawat inap yang kabarnya memang sudah mati suri. Hidup segan mati tak mau. Sebelum saya meng-iya-kan, saya memilih mensurvei Puskesmas ini terlebih dahulu.
Saya yang sedang berada di kota diikutkan dalam rombongan tim dari Dinas Kesehatan yang akan mengunjungi Puskesmas ini, sebut saja Puskesmas K, untuk mencari tahu apa yang terjadi di Puskesmas ini kok bisa hampir semua program dan pelayanan bisa macet sebegitu lama. Kami naik speedboat. Tidak jauh, 3 jam saja perjalanan menyusuri sungai Digul. Sampai di Puskesmas K ini, berdiskusi dengan perawat yang tersisa, melihat-lihat kondisi puskesmas, rumah dinas, rawat inap, maka cuma satu kata yang bisa menggambarkan: MENYEDIHKAN. Sangat menyedihkan.
Saya beri tahu dulu apa yang Puskesmas ini punya. Puskesmas ini mempunyai 1 buah mobil ambulans Strada keluaran cukup baru, 2-3 buah motor dinas, 1 buah speedboat dinas, rawat inap dengan 8 kamar dan UGD, rumah dokter yang baru dibangun, mesin diesel berkapasitas besar yang bisa menyalakan listrik 10 rumah.
Semua pembiayaan serinci-rincinya ditanggung oleh dana APBD yang dialokasikan untuk Dinas Kesehatan. Memang luar biasa kaya Papua ini. Kepala Puskesmas mendapat jatah bahan bakar untuk kendaraan dinas atau untuk menyalakan mesin diesel. Kepala Puskesmas mendapat jatah dana operasional yang jumlahnya tidak sedikit untuk menjalankan semua program intra-puskesmas maupun program keluar puskesmas seperti Pusling, berupa pengobatan dan imunisasi ke beberapa kampung yang letaknya jauh menggunakan speedboat tadi, yang seharusnya dilakukan rutin tiap bulan untuk meng-cover smua cakupan wilayah Puskesmas ini sehingga harapannya mencapai angka Cakupan Imunisasi 100%/UCI (semua ter-imunisasi). Termasuk penjaringan 3 kasus terpenting di Papua: TB, Malaria, dan Kusta yang semuanya termonitor tiap bulan.
Menurut aturan, semua obat-obatan dan alat, puskesmas tinggal terima di tempat. Semua dinas yang kirim. Petugas mendapat fasilitas perumahan 1 unit per individu, sedangkan rumah dokter menurut aturan semua fasilitas sudah terpenuhi dan tinggal pakai saja karena semua perabotan sudah lengkap.
Menyenangkan bukan??? Tapi mari mari kita lihat apa yang terjadi di Puskesmas ini..
Kepala Puskesmas yang seperti tidak dapat disentuh karena selalu memakai tameng bahwa dia adalah kerabat salah satu pejabat tinggi di sini. Beliau yang notabene orang asli Papua ini, saya kutip dari ucapan rekan-rekan di dinas kesehatan berujar: “siapa yang kasih turun saya, saya kasih turun dia duluan.” Luar biasa bukan? Maklum, kerabat pejabat.
Bagaimana dinas bisa menjalankan fungsi monitoringnya kalau yang dihadapi orang seperti ini??
Mobil ambulans yang sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu TIDAK pernah sama sekali menginjak distrik K ini. Mobil hanya berputar-putar di kota melayani bos-nya yang tidak bisa menyetir mobil. 3 buah motor dinas juga tidak ada di puskesmas. Entah kemana, kabarnya cuma terputar-putar di kota Boven gatau sapa yang bawa.
Speedboat juga sama saja. Dibawa oleh entah siapanya Kapus yang hanya naik turun digunakan untuk melayani penumpang umum carteran alias dibisniskan!! Bahan bakar jatah entah bagaimana lagi nasibnya. Yang jelas tidak ada satupun dari barang-barang tersebut yang terpakai dengan semestinya di Puskesmas K.
Ini bisa terjadi karena Kapus lebih banyak di Kota Boven. Dalam 4 bulan terakhir saja total tidak lebih dari 1 minggu beliau berada di tempat tugas. Itu pun paling-paling cuma 2-3 hari di tempat tugas, kemudian selanjutnya ya di kota lagi, naik 2 hari balik kota lagi.
Keadaan Puskesmas lebih hancur lagi. Tidak tau kemana larinya dana operasional karna teman-teman perawat untuk membeli kertas, spidol, plastik obat, bahkan untuk mengangkut obat ke Puskesmas sering keluar uang pribadi. Pusling ke kampung-kampung yang harusnya dilakukan tiap bulan NOL besar karena dana tidak dikeluarkan. Tercatat tahun 2009 mungkin hanya 2 kali saja ada pusling, sedangkan tahun 2010 sampai tengah tahun ini baru 1 kali. Harusnya kan tiap bulan!!
Sehingga anda bisa bayangkan betapa banyak anak-anak di kampung-kampung jauh sana yang belum terimunisasi, berapa banyak dari mereka yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan berbulan-bulan???
Tidak heran pada bulan April/Mei 2009 terjadi outbreak campak di salah satu kampung yang berakibat beberapa meninggal dan membuat masyarakat marah luar biasa sehingga kasian sekali dokter PTT yang pergi ke sana untuk tangani outbreaknya, sempat disandera dan DIJEMUR!, ditahan oleh masyarakat.
“Puskesmas tidak ada pelayanan ke sini ini yang membuat sekarang penyakit menyebar dan banyak meninggal!” begitu teriakan mereka, dokter yang datang pun dimarah2. Siapa yang salah?? Coba pikir, bagaimana mungkin kita jangkau kesana tiap bulan kalau dana aja entah bos bawa ke mana? Mau renang?? Tapi kita minta ke Dinas juga tidak bisa karena semua dana sudah diserahkan ke Kapus. Jadi siapa yang salah??? Kasian juga tu dokter PTT yang kemaren.
Mengenaskan. Rawat inap terbengkalai begitu saja, penuh dengan kotoran, meja dan lemari yang belum dirakit, sarang semut, sarang tawon, sarang laba-laba. Hancur lebur pokoknya. Bagaimana ada masyarakat yang bisa dirawat kalau kondisinya begitu? Saya cek alat-alat lebih parah lagi. Rekan-rekan perawat bilang alat-alat disini punya kaki, jadi bisa jalan-jalan sendiri. Tapi begitulah kenyataannya. Bahkan minor set untuk jahit pun tidak ada!! Entah saya mau bicara apa lagi.
Pic. Minor set yang tersisa. Isinya cuma klem arteri, klem Allis, klem kocher, mosquito klem (klem kabeh ki trus piye??). Karatan n gak pernah dipake kayaknya.
Sementara listrik PLN sudah lama tidak menyala, mesin diesel yang ada diletakkan di dalam suatu ruangan khusus yang oleh Kapus pintunya disegel pakai kayu, dan engkol staternya diambil. Sehingga petugas disitu tidak bisa mungkin to bisa pakai. Tidak ada listrik. Jadi makin tidak mungkin lagi rawat pasien. Kalau malam gmn??
Ada lagi proyek pompa air sumur yang katanya dulu pernah ada pompanya tapi sekarang tu pompa sudah raib entah di mana. Sehingga puskesmas tidak punya sumber air. Kalau petugas butuh air ya jalan dulu ke sumur terdekat trus timba-timba air. Sebenarnya ada 6 buah profil tank @ berkapasitas 1.100 liter untuk memfasilitasi ketersediaan air di puskesmas dan rawat inap. Tapi keenam buah profil tank tersebut dibiarkan terbengkalai dan pak Kapus tidak memperbolehkan satupun diutak-atik. Jadi ya begitu sudah terbengkalai tidak terpakai.
Bicara masalah TB alias Tuberculosis dan Malaria lebih kacau lagi. TB di sini hancur total. Dulu, alkisah ada petugas Lab yang melayani pemeriksaan TB. Tapi semua berhenti di tahun 2006-2007, si petugas lab mengundurkan diri sehingga lab tertutup terkunci rapat selama 3 tahun dan belum pernah ada yang membuka. Meninggalkan sejumlah pasien TB drop out terapi berkeliaran di luar sana. Sehingga penanggulangan TB di puskesmas ini nol besar selama 3 tahun. Jadi anda bisa bayangkan ada berapa banyak orang yang sudah tertular di luar sana.  Apalagi pemeriksaan malaria. Halah. Tidak usah diperbincangkan. Tidak ada petugas lab, tidak ada juru TB, tidak ada yang bisa periksa malaria.
Pic. Kondisi lab yang reagennya udah expired semua.
Begitu mati surinya sehingga kadang puskesmas buka jam 10, tutup jam 11 (puskesmas opo iki??), ditangani beberapa perawat n bidan yang masih bertahan. Loket dan rekam medis terbengkalai. Pasien langsung masuk ke ruang poli, langsung dikasih obat dan pulang. Tidak ada catatan medis sama sekali. Mengerikan!
Kita berlanjut ke fasilitas rumah dokter sekarang. Saya mau masuk aja bingung mau lewat mana. Tidak ada jalan! Bagaimana orang rumput aja rapat tingginya setengah meter!! Sampe-sampe si victor konco ptt di pkms lama yang ikutan kesini begitu dateng taruh tas langsung babat rumput saking gemesnya. Ckckck. Tidak ada apa-apa di dalam, kotor, usang, sarang-sarang hewan, tidak ada listrik dan penampungan air hujan. Saya sampai bingung mau mengelus apalagi selain mengelus dada. Haha
Pic. Rumah dinas dokter. Bagus to? Tapi gak keurus
Itu yang membuat tidak ada dokter yang betah di sini. Mereka bahkan tidak meninggali rumah dinas. Bagaimana rumah dinas macam begitu tidak ada apa-apa. Sementara di tempat lain, yang namanya Papua memang luar biasa. Semua difasilitasi. Dari tempat tidur TV Kursi Meja aja dibeliin lengkap oleh Dinkes. Di sini? Dokter datang pagi poli, siang bengong, malam makin bengong lagi kedap-kedip kedap-kedip pakai lilin tidak tau mau bikin apa. Sehingga ya dokter-dokternya hanya bertahan sebentar di tempat tugas, turun ke kota lagi. Ntar naik sebentar, turun kota lagi. Kasian. Kondisi yang sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir.
Rumah aja mereka ngungsi di tempat bidan. Hedeh. Sampai kemudian masa kontrak mereka berakhir bulan Oktober 2009 dan sejak itu sampai sekarang tidak ada lagi dokter umum yang bertugas disana . Lengkap dan makin suramlah keadaan Puskesmas disana.
Saya bersama tim dari Dinas berdialog dengan rekan-rekan perawat dan bidan yang tersisa. Kasian, mereka seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Kapus jarang di tempat, dana operasional ntah dibawa kemana, semua fasilitas transportasi dimonopoli Kapus di kota, sementara mereka yang jadi garda depan menghadapi masyarakat dengan berbekal obat seadanya.
Melihat semua tadi, mau tidak mau hati saya tergerak. Sekembalinya saya ke kota dan menghadap kepala dinas dan saat itu saya dihadapkan pada  2 opsi. Ada 1 puskesmas lagi yang kebetulan baru saja kosong. Ni puskesmas enak, ada sinyalnya, ada listrik malam hari, trus program jalan bagus, dana2 program cair. Kepala puskesmasnya menemui saya untuk minta saya pindah ke situ saja. Cuma setelah saya pikir-pikir, kalo ada sinyal gitu mah ngapain PTT jauh-jauh kesini. Akhirnya dgn mantap saya pilih di Puskesmas K tadi itu aja. Biarlah saya coba bangun satu puskesmas yang mau matek itu saja.
Saya bersedia dengan mengajukan satu syarat bahwa saya membutuhkan backup penuh dari Dinas Kesehatan untuk membangun Puskesmas ini dari awal, karena kita sudah sama-sama tahu tidak mungkin kita korek-korek dana dari Kapus. Ntar dia marah lagi. Capede. Sehingga yang bisa saya usahakan ya program-program dalam puskesmas saja. Yang bisa kita kerjakan tanpa keluar dana banyak.
Mungkin kira-kira yang TIDAK bisa saya tangani adalah pusling ke kampung-kampung jauh. Bagaimana mungkin kalau dana tidak dikasih sementara sekali pusling sewa longboat bisa keluar sekian juta. Wah, kalau harus per bulan begitu pakai duit sendiri bisa-bisa saya pulang tinggal pakai koteka makan sagu sementara Kapusnya enak-enak di kota pakai dana operasional.
Kepala dinas berjanji memfasilitasi saya dengan penyambungan listrik di rumah dinas, karena saya dengar kabar terakhir PLN sudah mulai menyala. Kadinkes memperbolehkan saya mengambil TV Parabola, Kursi, Meja, Kulkas, Lemari dll perabotan rumah yang semua sudah ada di gudang. Tinggal diangkat, katanya. Dinas juga bersedia melayani permintaan semua peralatan puskesmas mulai dari awal lagi, mulai dari minor set partus set, peralatan lab, timbangan dsb dsb. Semua biaya transportasi akan ditanggung, katanya.
Berbekal semua janji janji tadi, saya berkemas dan meninggalkan distrik dan puskesmas lama tempat saya bertugas seperti diceritakan di note yang kemarin. Saya datang ke kota dengan semangat ’45 untuk mulai membangun semuanya dari awal lagi. Target saya tidak muluk-muluk. Penuhi semua pelayanan dasar, TB Malaria Lepra/Kusta, UGD dan rawat inap harus bisa diaktifkan. Berkaitan dengan ini maka saya merasa waktu 2 bulan tersisa tidak cukup, sehingga saya perpanjang kontrak lagi untuk 8 bulan ke depan di Puskesmas yang baru ini.
Dan disinilah semua kegetiran itu dimulai (halah).
Berbekal selembar disposisi dari kepala dinas, saya mulai mengumpulkan semua yang saya perlukan. Dan hasilnya sangat mengejutkan. Saya dilempar-lempar tra karuan, mulai dari bendahara barang, bagian gudang, bagian yankes, entah kemana lagi sampai sepertinya semua ruangan di dinas sudah saya putari. Hampir satu bulan saya macam pengemis yang bolak balik datang ke dinas menagih semua janji-janji tadi tapi masih belum dipenuhi juga dengan bermacam alasan. Ketika akhirnya sudah hampir 1 bulan dan kesabaran saya habis. Untung obat, alat, bahan laboratorium sudah bisa dikeluarkan. Tapi barang fasilitas belum bisa. Saya mengancam mundur.  Eh tau-taunya barang-barang tadi langsung bisa dikeluarkan dari gudang. Tapi janji tetap tidak ditepati sepenuhnya. TV dan Parabola tidak dikasih. Payah.
Saya harus mengusahakan transportasi sendiri untuk mengangkut barang-barang tadi ke pelabuhan. Ketika kemudian hal yang lebih keterlaluan terjadi lagi. Sudah jelas prosedurnya bahwa SEMUA obat dan alat dan fasilitas ke puskesmas itu biaya transportasinya ditanggung oleh dinas kesehatan. Pengangkutan bisa dilakukan per 3 bulan. Sementara puskesmas K ini belum ngangkut obat selama 5 bulan.
Jadi kan jelas kita punya hak to?? Tapi sangat-sangat mengejutkan karena kepala gudang dan bendaharanya angkat tangan dan bilang uang habis. Saya kembali dilempar kesana kemari macam pengemis yang minta-minta uang.
Akhirnya kesabaran saya habis, sudah terlalu lama saya di kota, saya memutuskan berangkat ke Puskesmas membawa semua barang obat alat banyak sekali yang ngangkutnya ke pelabuhan aja harus 3 kali mobil bolak balik. Saya putuskan angkut pakai kapal dengan uang sendiri. Terserah, kalau nantinya diganti ya sudah, kalau tidak diganti ya biar sudah dosa mereka tanggung sendiri.
Kisaran 1,2 juta yang dibutuhkan untuk semua barang sampai di Rumah Dinas di Puskesmas K. Sebenernya saya heran juga. Sudah dokternya sendiri yang harus cakar-cakar kesana kemari ngumpulin obat alat barang, eee diangkut juga sendiri, padahal plot dananya ada. Parah. Seharusnya kan saya tinggal duduk manis di rumah n tu barang datang sendiri! Hitamnya dunia kesehatan di Papua.
Naik ke puskesmas dengan amunisi penuh. Cangkul parang badik obeng palu gergaji (ki dokter po tukang to?).
Awal mei saya mulai bertugas. Mulai dari membersihkan rumah dinas, membabat rumput-rumput yang tinggi gak karuan tu, memasang sambungan PLN yang kebetulan baru saja mulai menyala, nyolong talang air di puskesmas buat saya pakai masukin air ke rumah (hehe), ngrakit-ngrakit kursi lemari meja.
Pic. Ngrakit meja kursi dll.
Pic. Babat rumput pake mesin pinjeman. Di depan rumah tergeletak parabola lama yang dah rusak.
Hari-hari pertama saya masuk puskesmas memang luar biasa capede. Saya selalu datang paling awal, sendirian, merangkap jadi petugas loket yang udah kayak gudang berdebu gak karuan. Pelan-pelan mulai kita ajak teman-teman bersihkan dan aktifkan.
Hari-hari berikutnya laboratorium dibuka untuk pertama kali setelah 3 tahun terkunci. Isinya amburadul. Kita mulai kerja bakti dan bersihkan semua. Saya mulai menjalankan pengecatan slide TB dan lab malaria. Sementara jumlah pasien sudah mulai naik. Mulai merambat dari angka belasan per hari hingga puncaknya hampir 50 pasien dalam 1 hari. Tapi habis tu turun lagi stabil di angka 20-an. Untung deh. Males juga kalo kebanyakan =p
Jadi kira-kira begini aktivitas baru saya di awal bertugas: bangun pagi belanja sayur di pasar. Pulang angkat air dari sumur buat mandi. Masuk puskesmas jam 9, nyambi jadi petugas loket daftar-daftar pasien, masuk poli sambil menjaring pasien TB yang dalam 1 bulan sudah ada 31 orang suspek TB dan 4 orang susp Lepra.
Mengerikan, banyak sekali kasus disini gara-gara program yang terbengkalai. Siang hari selesai poli saya masuk lab dan mengecat dahak-dahak SPS pasien TB dan sediaan lepra pakai pewarnaan yang sudah dibawa dari kota. Otomatis pulang juga paling terakhir. Baru deh jam 1-an bisa pulang masak makan siang.
Malam hari listrik PLN yang sudah menyala meskipun cuma 6 jam saja, dari jam 6-12 malam, tapi itu sudah bagus lah. Kegiatan malam saya periksa BTA slide-slide TB dan lepra yang dicat tadi siang. Kadang sesekali slide malaria. Ini hanya minggu-minggu awal saja. Minggu-minggu berikut saya menyerah karena gak kuat ngliat mikroskopnya yang udah jamuran jadi lapang pandangnya item-item. Daripada saya salah diagnosis, saya titipkan slide-slide yang sudah tercat tadi setiap minggu ke teman-teman perawat yang rutin turun ke kota untuk dibacakan hasilnya di kota. 
Pic. Testing minor set baru: ngambil clavus (mata ikan) di kaki sendiri. Kelamaan jalan di hutan kali ya
Di hari libur, kita mulai membersihkan rawat inap dan UGD yang acakadul sehingga gak cukup sehari buat bersihinnya. Secara bertahap pasien rawat inap mulai masuk, ya gak banyak-banyak, 5 orang di minggu-minggu awal. Semua alat dan obat penting yang rawan berjalan-jalan sendiri saya kunci di lemari tersendiri. Smua sudah lengkap mulai dari minor set, suction device, forceps, sterilisator, otoskop, ophthalmoskop, Doppler, dll. Mungkin ada yang tanya, kenapa sih muluk2 harus ada alat segitunya? Orang kita waktu di klinik2 di jawa aja alat minimal nyante2 aja. Lha kalo kt yang di jawa enak, ada pasien yang susah kita bisa blg: maaf disini alatnya nda ada, cari aja klinik lain. Tapi kalo disini?? mau pasien gimanapun bentuknya ya silakan tangani sendiri to?!? masalahnya dirujuk ke kota juga gada dokter spesialis di kota. Harus rujuk ke Jayapura /Merauke yang prosedurnya luarbinasa ribet n kebanyakan psien jg ga mau. Jadi ya hukum di sini tu segimana2 kl bisa tangani sendiri. Makanya kalo minor set aja gada tu namanya bunuh diri.
Disini kendala mulai muncul. Listrik padam. Mesin PLN rusak, diperburuk dengan krisis bahan bakar di Boven Digoel (PLN di sini tenaga diesel pake solar). Cuma karena program TB masih dalam tahap penjaringan suspek, maka saya tidak perlu buru-buru dapat hasil BTA-nya yang dikirimkan ke kota. Yang repot nanti kalau sudah masuk tahap pengobatan, evaluasi BTA bisa berantakan kalau tidak kita periksa sendiri karna terlalu lama kalau harus kirim ke kota.
Jadi praktis kita nikmati listrik cuma 3 mingguan lah. Selebihnya ya pake lilin lagi. Kembali ke jaman purba. Sementara diesel puskesmas masih teronggok karatan di ruangan yang disegel sama Kapus tu.
Masalah rujukan menjadi masalah tersendiri di Puskesmas ini. Menyedihkan. Kadang bidan dan perawat harus iuran keluar duit sendiri untuk merujuk pasien gawat ke kota. Lumayan lho, sewa speedboat kira-kira 600rb. Padahal jelas sekali anggarannya bahwa semua dana rujukan dari puskesmas ke kota ditanggung oleh dana operasional Puskesmas ato jamkesmas. Tapi begitu sudah. Bisa emosi kalau kita bicara dana operasional tu. Pernah satu kali kita membutuhkan rujukan, dan kebetulan pak Kapus sedang ada di puskesmas, dia dengan entengnya bilang: tidak ada uang. Luarrr biasaaa!!!
Ini juga yang saya alami. Di penghujung bulan kedua di Puskesmas, kita ada panggilan ke kota untuk pelatihan Malaria dan TB seluruh Puskesmas bersama wakil dari Dinas Provinsi. Wah, kesempatan untuk membongkar semua kebobrokan di sini, batin saya.
Kebetulan saat itu ada pasien yang saya angkat tangan memang. Pasien gemelli posisi 69, bayi A prebo, bayi B preskep. Untungnya bukan interlocked (locked twins). Mulai lahir bayi A jam 10 malam kaki duluan, sampai bahu lahir, tapi kepalanya nyangkut. Cuma saat itu si pasien masih di atas longboat dalam perjalanan ke puskesmas. Dini hari pasien menuju puskesmas dalam kondisi kepala yang masih tertahan, bayi sudah meninggal. Bayi A dilahirkan meninggal dan saya mulai pusing setelah bayi B tidak kunjung masuk panggul, sementara His mulai menghilang. DJJ masih bagus.
Saya mulai drip oxytocin sampai dosis maksimal dan sudah lewat 8 jam sejak bayi A lahir, bayi B tak kunjung masuk panggul juga. His jelek sekali. Mau kita tahan lebih lama lagi tapi saya tidak tega kalau harus kehilangan bayi B. kalo di kota besar mah enak, ½-1 jam bayi B gak lahir-lahir, langsung Sectio, beres.
Sebenernya ada opsi menantang. Begitu bayi B gak lahir-lahir, mumpung pembukaan masih lengkap, tangan masuk ke dalem n cari kakinya, kalo dia kepala di bawah ya putar, tarik pahanya ke bawah, kepala jadi di atas n keluarkan. Jadi breech extraction/sungsang. Preskep tapi dibikin lahir presbo. Kan enak gak usah nunggu kepala masuk, langsung aja tarik kaki. teorinyaaa
Cuma ada 2 hal yang bikin saya belum berani masalah ini. Yang pertama masih ada opsi turun ke kota, jadi biar yang lebih jago di kota yang tanganin. Yang kedua n yang paling penting, iya kalo pas tak rogoh-rogoh di dalam uterus nemu kaki trus langsung tarik ke bawah, yang nongol keluar beneran kaki. Kalo ternyata tangan??? Kan mirip tu!?! Bisa bisa langsung harakiri di tempat saya ntar. Haha. Edan po tangan keluar njuk aku arep ngopo???? Masukin lagi?
Mungkin kalo dapet beginiannya pas di puskesmas lama kemaren yang jelas akses rujukan gak mungkin bisa kecuali pesawat sebulan sekali, bakal dilakuin juga kali yak! Hehe. Kalo disini kan enak, rujuk pake speed bisa.
Saya putuskan bawa ke kota karna skalian harus ikut pelatihan TB Malaria tadi,, meskipun toh di kota juga tidak ada Sp.OG. Tapi minimal di sana ada senior-senior PTT.
Bidan dan perawat mulai kumpul-kumpul uang untuk iuran carter speedboat. Siapa coba yang tega ngliat kayak gitu?? Gaji mereka kan juga tidak banyak. Biar kita2 sajalah yang tanggung toh juga skalian turun ke kota. Gak fair kalau nyawa kita bandingkan dengan uang ratusan ribu. Sapa tau juga ntar bisa diklaim n diganti.
Sebenernya ni kasus menarik lho. Jadi setelah sampai di kota, bayi B kita observasi sama-sama dan drip oxy terus-terusan mpe akhirnya dia turun dan lahir dengan selisih hampir 2 hari dari bayi A, dan selamat meskipun meconium sudah keluar. Luar biasa. Coba bayi A hidup ya, aneh banget anak kembar tapi jaraknya 2 hari. Haha. Memang sampe di kota tidak kita rujuk ke SpOG Jayapura ato Merauke soalnya katanya dana di kabupaten jg lagi seret. Jd kl kasusnya “cuma” kaya gini kyknya bkal gbs dirujuk. Kecuali kalo yang terancam mati ibunya baru deh mungkin bisa. Huehe buset dah.
Sampai di kota, nyambi mengurusi permintaan tambahan alat dan obat yang masih kurang, sambil mengurus obat-obatan TB dan lepra yang hasil pemeriksaannya sudah keluar beserta laporan-laporannya. Btw jangan dikira obat disini minimal lho ya. Obat disini sebetulnya sudah memenuhi standar, cuma yang bikin sering gak ada di puskesmas tu ya karena masalah tidak terangkut ke puskesmas aja. Klasik, masalah transportasi. Seperti di puskesmas saya yang lama tu, harus kirim via pesawat yang jarang-jarang terbang. Ribet lah.
Kalau di puskesmas saya sekarang sih yang penting kita extra usaha buat datang sendiri ke gudang obat, obat bisa lengkap karena kita yang pilih sendiri. Macam transamin i.v, piracetam, catapress, semua antibiotic penting, obat-obatan malaria, ACT terbaru (arterakine alias dihydroartemisinin dan piperaquine) tu lengkap ada smua. Cuma jarang dokter disini yang turun tangan langsung karena kan puskesmas punya petugas apotek. Sementara petugas apotek gak terlalu paham obat-obat yang baru tu apa aja. Akhirnya ya gitu, numpuk di gudang farmasi dinas. Cuma kalo saya sih mending langsung belanja sendiri di gudang, jadi kita bisa pilih obat dan angkut semau gue. Hehe.
Apa yang terjadi di kota membuat saya geleng-geleng. Ternyata saya kecele. Bukan pelatihan! Tapi monitoring dan evaluasi program TB dan Malaria tahun 2009 yang tiap puskesmas harus bikin presentasi datanya.
Habis gimana, undangan rapat ini aja saya denger kebetulan aja pas lagi iseng-iseng buka radio, SSB-an sama si Victor di Puskesmas lama. Entah gimana Kapus tu ngapain aja bukannya nyiapin presentasi, naik ke puskesmas aja dia enggak.
Semua puskesmas yang membuat presentasi ya dengan inisiatif Kapusnya. Kan dia to yang punya data. Lha puskesmas saya? Tu Kapus entah di mana kabarnya saya juga tidak tahu, sampai H-1 rapat, saya baru tau ada presentasi, jadi langsung saya cakar-cakar cari data di dinas kesehatan tahun 2009 dan saya bikin presentasinya dari malam mpe pagi jam 5 baru selesai. Buset. Lagian kan tahun 2009 saya blum ada di puskesmas ne?? terpaksa pelan2 saya pelajari gimana datanya.
Pagi jam 9 pertemuan dimulai dan tu Kapus ajaib dateng, cuma diem!! gak ada tanya-tanya kita gimana presentasinya. Diem duduk manis. Buset dah! Emosi saya sudah memuncak. Ini yang membuat saya berencana membongkar semua bobroknya puskesmas.
Muka Kapus merah padam ketika dalam presentasi saya blak-blakan. Saya memaparkan: “Di grafik di depan bisa diliat, kasus malaria di kampung bla3 bulan bla3 sebanyak NOL kasus. Sebenarnya ini bukan tidak ada kasus, tetapi karena kampung-kampung ini tidak dikunjungi pusling sehingga tidak ada data yang masuk dalam setahun.”
Sedangkan TB nol besar sejak 2007. Saya paparkan semua foto kondisi lab, foto obat-obatan TB tahun 2007 milik beberapa pasien yang masih ada sisanya (tidak habis, artinya TB drop out terapi). Dan Disitulah pak Kapus diserang habis-habis oleh Kabid dan Penanggung jawab program dari Dinas Kesehatan. Sementara Dinas Provinsi cuma bisa geleng-geleng kepala.
Kepala Bidang P2PL mengatakan: “Saya tidak mau tau, setelah ini pak Kapus harus memfasilitasi dokternya, mendukung smua program di Puskesmas”, dan besoknya Kapus dipanggil untuk bertemu dengan penanggung jawab program membahas masalah bobroknya program puskesmas dan rencana ke depannya. Maka tidak ada pilihan lain selain meng-iya-kan.
Sebenarnya apa yang terjadi di puskesmas saya ini cuma sepenggal cerita suram tentang kesehatan di Papua. Ada BELASAN puskesmas dengan Kapusnya dan dana operasional masing-masing, namun hanya 5 puskesmas yang aktif penuh, dan saya harus menyampaikan fakta bahwa dari semua Kapus, cuma 5 orang yang non-papua alias pendatang, dan mereka itulah yang mengepalai ke-5 puskesmas yang aktif ini. Miris bukan?? meskipun baru baru ini beberapa kapus diganti lagi ama orang asli.
Sementara yang lain, karena kebijakan Otonomi Khusus bahwa sebisa mungkin orang Papua yang memimpin instansi-instansi, itu sudah hasilnya. Diskriminasi terhadap pendatang berbuah boomerang buat mereka sendiri.
Tidak berhak saya menghakimi, tapi coba saya tanya, adakah SATU puskesmas saja yang kalian orang asli tu pimpin itu aktif penuh?? Tidak ada! Padahal dana operasional terus mengucur. Hampir semua kapusnya cuma ngendon di kota Boven. Tidak ada pelayanan ke tempat tugasnya. Seperti distrik di ujung yang saya ceritakan di note kedua ketiga itu kan ada kapusnya. Tapi ya begitu sudah, dalam setahun cuma sekali datang beberapa hari saja. Selebihnya tidak ada pelayanan.
Banyak saya dengar cerita n saya liat sendiri kawan-kawan dari berbagai instansi mulai dari apoteker, perawat, n non dinas kesehatan dipersulit sekali dalam penerimaan PNS. Sementara orang asli lulusan SMA begitu mulus masuk jadi PNS.
Jadi sudahlah, berhenti anda-anda ini berteriak bahwa kalangan anda tidak diperhatikan oleh negara sehingga sebegitu tertinggalnya. Berhenti sudah! Fakta yang saya lihat di depan mata bahwa anda sendirilah yang mendiskriminasi orang-orang pendatang di sini. Maaf tapi ini fakta. Padahal seharusnya anda sebagai orang asli jauh lebih sayang kepada masyarakat anda sendiri to??!!
Apa yang terjadi sekarang jauh lebih buruk daripada jaman dulu dimana Kabupaten Boven masih belum berdiri, masih bagian dari Merauke. Jaman sebelum Otonomi Khusus. Dimana kapus adalah dokter-dokter yang bertugas disitu, PTT maupun PNS. Nama-nama seperti Victor Sambuaga yang dulu bertugas di Puskesmas saya ini akhir tahun 90-an, begitu terkenal disini, sampai-sampai masyarakat menangis tidak rela melepas pada saat beliau pindah tugas katanya. Pelayanan setiap bulan jalan sampai distrik paling ujung sekalipun. Entah itu dengan pesawat, jalan kaki atau apapun itu.  Imunisasi universal tercapai.
Sekarang?? Kemunduran total. kalo masalah yang saya ceritakan ini terjadi di puskesmas baru, tu wajar. tapi ini masalahnya puskesmas induk yang udah berbelas2 tahun berpuluh2 taun umurnya. Dan dulu semua program pernah berjalan. gile to
Kembali ke cerita..
Hari-hari berikut, backup dari dinas penuh ada di pihak saya. Saya mengajukan permintaan mikroskop baru dan semua keperluan alat dan bahan untuk membantu program TB, Malaria, Kusta/Lepra, mengaktifkan ruang persalinan, penanganan kelambu, larvasida, dan semua dipenuhi dengan cepat. Ditambah penambahan 1 dokter PTT baru yang baru saja datang langsung dikirim ke Puskesmas kami. Saya merasa di atas angin,bahwa harapan itu ada. Kapus sepertinya mulai tampak kooperatif setelah dinkes sedikit tekan.
Saya kembali pulang ke puskesmas dengan mencarter speedboat membawa segala macem barang obat dan alat-alat baru lagi. Empat karung besar kira-kira banyaknya. Tiba di puskesmas, kita total bertiga. 2 dokter umum, 1 dokter gigi. Saya merasa beruntung mendapat rekan yang muda dan idealis. Kita satu visi rupanya. Namanya dr.Fendi.
Segera program kita jalankan, terapi TB dan Lepra kita mulai. Lab, UGD, rawat inap, ruang persalinan sudah sepenuhnya aktif.
Sial, karena ternyata listrik PLN yang mati kemaren masih belum nyala juga. Kita kesulitan sekali karena lab sudah mulai berjalan sementara mikroskop baru kan juga butuh listrik. Dan kabarnya listrik mati ini bakal berlangsung lama, seperti tahun kemarin, mungkin hingga berbulan-bulan entah kapan bisa menyala, diperburuk dengan krisis solar di kabupaten yang bahkan PLN di kota Boven pun hanya menyala 6 jam sehari.
Kita butuh listrik karena pengobatan TB udah dimulai dan harus kita periksa mikroskop sendiri. Pasien TB kan setelah fase intensif 2 bulan terapi HRZE kan harus kita monitor slide BTA nya lagi to untuk menentukan lanjut ke fase lanjutan 4 bulan atau masuk fase sisipan jika BTA nya masih positif. Tidak mungkin dong mereka nunggu slidenya dikirim ke kota n tunggu hasilnya berminggu2. Trus mereka sambil nunggu ngapain? Gak minum obat? Sementara Kapus tidak bisa diharapkan karena 2 bulan terakhir dia belum pernah naik ke Puskesmas.
Kita memutuskan untuk meminta bantuan tetangga-tetangga memperbaiki mesin diesel yang gak pernah disentuh itu. Tentang ongkos dan bahan bakar, biar kita yang iuran sendiri nanti. 2 hari mesin diesel diperbaiki, menyala juga akhirnya. Kita patungan beli kabel dan semua peralatan yang dibutuhkan (yang notabene seharusnya semua pemeliharaan alat, bahan bakar, semua sudah ada plotnya di dana operasional). Kami kerja bakti masang kabel sekian ratus meter ke rumah-rumah petugas, ke rawat inap dan lain-lain. Saya mengirim surat ke Kapus di kota untuk memberitahu bahwa diesel kita hidupkan karena program kita bisa kacau tanpa listrik. Lumayan lah, minggu-minggu terakhir ini sudah bisa ada listrik meskipun tekor juga biayain solarnya. Ah yang penting saya bisa periksa mikroskop. Pasien rawat inap juga sudah tidak gelap-gelapan lagi. Setengah mati kalo harus ada tindakan mcm infus, jahit, partus kalo cm pake lilin.
Dengan sudah mulai berjalannya semua program, ada 1 hal terakhir yang harus saya tanggulangi. Kinerja petugas dan motivasi mereka. Rekan-rekan perawat bidan ini macam orang yang sudah terlalu bosan dengan pekerjaannya. Bayangkan aja, sudah bertahun-tahun disini tapi itu-itu saja yang dihadapi ditambah dengan kondisi kapus yang macam begitu. Monoton sekali. Akibatnya petugas lebih banyak berada di kota daripada di tempat tugas. Cuma pendekatan represif saya kira tidak mempan dengan mereka. Malah tambah tertekan n ngacir ntar.
Saya mencoba melakukan pendekatan lain.
Ijinkan saya sedikit bercerita tentang neuroscience (btw mnrt saya neuroscience adl ilmu yg plg brilian di muka bumi =p). Teringat akan penelitian di Jepang tentang prefrontal cortex, meneliti tentang otak orang-orang yang pada masa tuanya masih energik, tidak pikun, dan bersemangat. Ditemukan bahwa cortex prefrontal mereka jauh lebih berkembang dan tidak menyusut. Ada banyak resep, tapi salah satunya adalah: “always take new challenge n try something new”.
Scanning pada aktivitas otak menunjukkan  bahwa ketika kita menemui sesuatu yang baru maka ini akan mengaktifkan koneksi cortex prefrontal-cortex memory-cortex asosiasi (temporoparietal), begitu terus menerus setiap menemui hal yang baru sehingga otak mereka dari depan mpe belakang tidak “menyusut”. Berbeda dengan orang yang melakukan hal hal itu saja maka yang sudah tersimpan di pusat memory-nya di hipokampus n cortex asosiasi tinggal dikirim ke cortex2 eksekutor. Yang laen kagak kepake lagi.
Saya coba memberikan mereka tanggung jawab baru, melatih beberapa orang untuk pengecatan dahak, pengecatan malaria, berurusan dengan berbagai formulir TB n malaria, melatih mereka mendiagnosis TB Malaria dan Lepra lewat mikroskop. Setiap ada pasien yang kasusnya menarik saya panggil mereka ke poli untuk periksa sama-sama, semacem tentiran koas lah. Kita kasih dengar macam-macam suara paru yang patologis.
Ternyata yang saya rasakan kinerja mereka berubah. Jadi lebih rajin datang ke puskesmas dan mengerjakan hal-hal yang belum mereka kerjakan sebelumnya, mendapatkan hal yang baru setiap minggunya. Di sisi lain saya sudah lebih santai karena begitu ada pemeriksaan lab, tinggal tulis permintaan saja, mereka yang kerjakan. Mereka yang mulai dari nol ternyata bisa juga.
Buat nambah kebersamaan, maka setiap turun ke kota kami memborong bahan-bahan kue macam2. Minimal seminggu 1x kita coba-coba bikin kue mule dari brownies, pudding, agar2 vla, lapis Surabaya, mpe blackforest jadi-jadian. Haha. Sehabis puskesmas kita makan sama-sama sambil berbagi keluh kesah. Itu menjadi kegiatan rutin tiap minggu disamping makan-makan papeda (olahan sagu khas orang timur) sama-sama.
Kami mulai merasa Puskesmas sebagai rumah kedua. Ketika tulisan ini dibuat, kami sedang merawat pasien beberapa hari di Puskesmas, dan rekan-rekan mulai dari bidan, perawat, petugas gizi semua bergantian jaga standby penuh n menginap di Rawat Inap. Saya tinggal visite2 n kasih instruksi saja. Hal yang sebelumnya saya kira mustahil mengingat teman-teman di Puskesmas lain yang punya rawat inap ada uang jaga-nya per pasien, ada uang tindakan UGD di luar jam kerja, ada uang perkapita di Poli.
Sedangkan kita disini semua sukarela mengingat uang hak hak kita jaga, tindakan UGD, pasien di Poli dan sebagainya ntah dimana bakal dibayar ato gak. Mudah2an suatu saat nanti dibayarkan. Bukan sekedar jaga sukarela, tetapi teman2 rela iuran solar untuk menghidupkan diesel sampai larut malam/pagi kalo ada pasien rawat inap. Begitulah, akhirnya ikatan ini menjadi kuat. Ikatan orang-orang yang diterlantarkan oleh kepala yang seharusnya menjadi panutan mereka..
Akhirnya..
Seminggu yang lalu dr.Fendi turun ke kota untuk mengkroscek Kapus sudah kasih ijin hidupin diesel belum, ditambah siapa tahu Dinas Kesehatan bisa bantu masalah bahan bakar dan pengadaan kabel ke rawat inap yang panjangnya 200 m n bisa habis jutaan kalo kita yang beli sendiri. Jadi saya sendirian di rumah. N lengkap sudah karena 2 hari yang lalu tiba-tiba demam menggigil dan cek darah ternyata positif Malaria.
Dan kabar yang baru saya terima kemarin inilah yang benar-benar mengejutkan. Kabar dari Fendi yang di kota tadi bilang kalo Kapus sama sekali TIDAK SETUJU kalau diesel dihidupkan. Entah apa alasannya tidak jelas. Sampai si Fendi menghadap Kepala Dinas dan bertemu bertiga dengan Kapus untuk negosiasi, cuma belum tau gimana hasilnya.
Saya luar bisa KALUT, MARAH, LELAH, PUSING!!! Program TB kami terancam kacau, padahal dalam 1 hari saja saya harus memeriksa sekitar 5 slide TB. Sementara mikroskop yang cahaya sudah rusak ndak bisa dipake. Rawat inap gelap?? Rumah petugas gelap?? Coba bayangkan, apa sih ruginya ngidupin diesel?? Toh itu inventaris Puskesmas. Apa hak Kapus untuk menghalang-halangi?? Seharusnya dia bersyukur,, kita sudah keluar dana sendiri perbaiki tu diesel mangkrak. Toh bahan bakar kita beli sendiri. Sementara di Puskesmas lain dana operasional masih bisa keluar, apalagi kalo ada pasien rawat inap, dana operasional yang dipakai beli solar.
Saya merasa seperti semua yang saya lakukan dan gak ada artinya lagi. Tiba-tiba semangat membangun semua di Puskesmas ini mulai dari awal berubah menjadi sebuah keletihan. Sangat letih. Saya menyerah. Sebenernya mungkin bisa saja saya melobi kantor distrik untuk ngikut diesel mereka trus beli kabelnya 200 meteran dari kantor distrik mpe rumah. Cuma apa harus begitu sementara puskesmas punya diesel sendiri?? Saya benar-benar merasa kita ini sudah tidak ada harganya lagi. Setelah apa yang semua kita usahakan, akhirnya harus berakhir dengan melayani pasien malam dengan lilin lagi.
Malam harinya saya tidak bisa tidur dan memutuskan untuk memberitahu teman di kota bahwa jika permintaan tentang ijin menyalakan diesel ini tidak dipenuhi, saya merasa SUDAH TIDAK SANGGUP LAGI dan mengundurkan diri dari PTT. Pindah ke Puskesmas lain atau pulang saja.
Tidak ada lagi yang bisa saya pertahankan disini kalau saya cuma bisa menyaksikan masyarakat terus digerogoti penyakitnya dan dukungan dari Kapus tidak ada begini.
Saya tidak minta dukungan, SAYA TIDAK PERNAH MINTA SEPESERPUN duit operasional yang anda bawa, tapi minimal tolong, jangan halang-halangi kita macam begini.. entah sebenernya anda ini punya HATI atau tidak!?!

*break*
Lagu my chemical romance mengalun dari hp saya:
“when I was, a young boy..
my father.. took me into the city.. to see a marching band..
he said son when u grow up would u be the savior of the broken.. the beaten and the damned..”
semangat bait ini yang saya bawa kesini tapi sepertinya sekarang semua mulai sia-sia.
Baru tadi ketika saya mulai menulis note ini, dalam kekesalan dan amarah saya merenung..
Terlintas dalam benak saya wajah bapak-bapak kemaren dulu yang tampak begitu sesaknya, kurus, pucat, tak berdaya didorong di atas gerobak oleh istrinya dari rumahnya menuju Puskesmas, kita periksa hasil BTA-nya +3..  si istri sambil menggendong bayinya dengan noken di belakang, sementara mengikut di belakangnya anak anak mereka yang lain yang masih kecil-kecil..
Wajah seorang anak yang tampak kikuk menolehkan muka karena terganjal benjolan scrofula TB sebesar kepalan tangan di lehernya..
Teman-teman yang sudah mulai menemukan lagi semangat dan kebersamaannya..
Kembali saya bertanya pada diri saya sendiri. Apa iya sih, dalam kondisi yang masih begini saya akan meninggalkan mereka??
Manusia macam apakah saya ini..
Mudah-mudahan Alloh membuka mata mereka-mereka yang berkepentingan. Hambamu sudah berusaha sampai disini.
Sekian
NB:
Apa yang tertulis di atas hanya terjadi di puskesmas ini dan TIDAK untuk menggambarkan kebanyakan Puskesmas di daerah ini. Masih banyak puskesmas yang programnya berjalan bagus. Saat note ini di upload mungkin saja n mudah2an saja cerita sudah berakhir dengan baik. Mungkin ada harapan karna kami berencana mengklaim smua biaya yang sudah keluar n mencari dukungan dari petinggi2 di dinkes untuk menekan kapus masalah dana yang menjadi hak-hak petugas dan keperluan pusling. Mudah2an berhasil. Cuma memang sengaja saya upload apa adanya seperti tertulis pada bulan Juli.
konten note ini TIDAK untuk disebarkan di website umum/lain, hanya untuk kalangan terbatas. Tapi jika ternyata ada pihak yang tidak terima dan merasa dijelekkan, tolong tanya pada diri anda jika anda masih punya hati.

Monday, September 6, 2010 1:56 AM "yuswanti yuswanti" <y_yuswanti@yahoo.com.au>

menarik membaca kisah TS dibawah. Kapan saudara2 kita yg ada di pulau paling timur itu akan mendapatkan hak2nya dalam hal kesehatan kalau kondisinya msh seperti itu.

Monday, September 6, 2010 3:10 AM "Edhie S Rahmat" <edhiesr@yahoo.com>

Perjuangan yang pernah kita lakukan tidak pernah sia-sia, asal kita lakukan dengan motivasi yang baik. Tetap semangat dan jangan pernah menyerah.
Banyak cerita tragis yang lain yang kita dapatkan dari berbagai tempat di negri ini, tidak hanya dari Papua.
Mumpung ada kesempatan terbuka melalui web/internet; cerita ini lebih baik lagi di masukkan dalam blog misalnya di wordpress atau apapun. Suatu ketika cerita2 ini bisa jadi sebuah buku bacaan yang menarik untuk dibaca bagi rekan2 sejawat dokter dan calon dokter.
Pengalaman saya pribadi, banyak hal-hal yang bisa menjadi bahan artikel sewaktu saya bekerja di Puskesmas. Saat itu saya anggap sebagai sesuatu yang biasa2 saja dan sekedar meramaikan dunia tulis-menulis. Namun ternyata mendapatkan apresiasi dari banyak orang. Ada artikel penelitian yg waktu itu dianggap sederhana dan tidak ada apa2nya, ternyata sekarang dipakai sebagai referensi oleh dunia industri utk suatu asupan bagi anak2 anak2 di negri tercinta.
So, jangan lihat apa yg orang pikirkan sekarang, tetapi biarlah semaunya kita serahkan pada waktu yang akan menilainya.

Monday, September 6, 2010 3:21 PM "flubis@rad.net.id" <flubis@rad.net.id>

Kisah TS sebagai dokter Puskesmas di Papua ini, tidak saja menarik menurut saya, tetapi mestinya juga menyedihkan dan membuat kita marah!
Siapa yang mesti bertanggung jawab terhadap masalah seperti ini dan bisa paling tidak memperbaikinya kalau tidak mengatasinya? Saya takut jawabannya seperti lagu ....blowing in the wind..., atau seperti lirik lagu Ebiet G Ade ...mari bertanya pada rumput yang bergoyang...., tidak ada yang mau/berani bertanggung jawab seperti biasanya birokrasi kita. Saling lempar tangan. Kepala Dinkes? Pemda setempat? Kemenkes? Atau siapa?
Atau ada lagi yang mungkin bilang: ...ah, ginian aja diurusin...Masa bodo lah.
Salam,
Firman

Monday, September 6, 2010 5:29 PM "Sarmedi Purba" <sarmedi.purba@yahoo.de>

Pak Firman dan kawan-kawan,
menurut pendapat saya yang paling bertanggungjawab pada peristiwa ini adalah pemerintah pusat, karena penindakan secara hukum dan peraturan perundang-undangan adalah di tangan pemerintah pusat. Di tiap kabupaten kan ada aparat hukum pusat berupa jaksa, polisi, hakim. Ini tidak dibawah perintah bupati dan walikota. Kalau aparat penegak hukum diam, itu karena tidak ada perintah dari pusat.
Tentu tidak harus diperintahkan untuk setiap pelanggaran, tetapi harus merupakan kebijaksanakan umum dari pemerintah Jakarta, bahwa kejaksaan dan kepolisian wajib mengawasi tindakan korupsi dan pelanggaran-pelanggaran konstitusi dan peraturan yang berlaku di daerah.
Orang selalu menuding bahwa dengan otonomi daerah muncul raja-raja kecil. Saya mau tanya, siapa membiarkan ada raja-raja kecil ini? Jawabnya adalah pemerintah pusat dengan pembiaran terjadinya pelanggaran. Malah ada orang menduga, bahwa raja-raja kecil ini selamat tidak tersentuh hukum karena ada dekking di pusat (katanya ada setoran juga).
Intinya, dalam negara NKRI, soal keamanan, penegakan hukum (di samping moneter, luar negeri dan agama) masih wewenang pusat. Kalau ada program kesehatan, program pendidikan dan program lain, adalah tanggungjawab pusat untuk mengawasinya dengan aparatnya yang ada di daerah. Kalau ini tidak terjadi maka akan terjadi anarki seperti musibah yang di Papua itu.

Tuesday, September 7, 2010 1:15 AM "flubis@rad.net.id" <flubis@rad.net.id>

Pak Sarmedi dan rekan semua,
Saya setuju dengan ujung-ujungnya adalah tanggung jawab pemerintah pusat. Tetapi siapa di pemerintah pusat itu? Maksud saya kalau kita mau mengatasi masalah itu, bagaimana mulainya? Apakah misalnya kita forward email TS tersebut misalnya ke email presiden dengan cc ke menkes, mendagri dll.? Kemudian mau ngapain? Menegur ke kabupaten? Atau apa?
Salam,

Tuesday, September 7, 2010 12:17 PM "Billy N." <billy@mediator.web.id>

halo rekan-rekan
Saya kutipkan isi UU no.32/2004 tentang otda:
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Pemerintah pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945...
Jadi, kita sudah tau siapa yang salah dalam masalah ini. Nggak usah sebut nama, kita semua sudah paham. Yang begini mau 'lanjutkan'? Yang ada hanya 'lanjutkan' kerusakan, korupsi, kehancuran... Mau berapa lama lagi kita bisa bertahan? Kita butuh lebih banyak Kolonel Adjie Suraji.
salam
Billy

Tuesday, September 7, 2010 2:04 PM "sarmedi.purba@yahoo.de" <sarmedi.purba@yahoo.de>

Pak Firman dan kawan-kawan,
Topik pengawasan ini sebenarnya sangat menarik dalam proses desentralisasi pasca reformasi di Indonesia. Topik ini memang kurang ditangani secara serius.
Di Amerika polisi berada di bawah pemerintah daerah/kota, seperti New York Police Dept (NYPD). Tapi masih ada polisi federal yi FBI mengawasi polisi lokal ini. Di Indonesia yang baru hanya Satpol PP, mereka hanya untuk penertiban, tidak untuk pencuri atau koruptor. Jadi penting sekali bahwa pemerintah pusat memiliki sistem pengawasan, pelaporan, dll untuk semua proyek yang ada di daerah, baik itu asal dananya dari pusat atau daerah.
Jadi intinya adalah, pusat tidak usah lagi pegang proyek, tapi mengawasi proyek dengan peraturan yang dibuatnya sendiri, mekanisme dan frequensi yang dianggap sesuai dengan sikon.
Yang terjdi selama ini, pusat juga berupaya dapat proyek, padahal itu porsi daerah. Terutama dalam bidang kesehatan, jelas sekali bahwa semua program harus dipegang daerah. Pusat harus mempersiapkan dan mengawasi aturan main. Terbukti bahwa petinggi Depkes yang terlibat korupsi pembelian alat, yang sebenarnya harus dilakukan daerah dengan pengawasan pusat melalui aparat Depkes.
Amatlah tidak mungkin dan tidak logis kalau pemerintah pusat membuat peraturan, pelaksanaan dan pengawasan proyek. Inilah yang tejadi selama ini, misalnya dengan Jamkesmas yang nilai proyeknya sekarang Rp12T(?).
Mungkin milis desentralisasi kesehatan bisa memberikan sumbangan pikiran dan konsep yang kongkret mengenai hal ini, sehingga musibah seperti yang Papua itu tidak terjadi. Saya yakin, banyak similar stories di daerah lain, termasuk penelantaran program oleh Pemda, yang menurut pendapat saya termasuk kejahatan intelektual.
Maaf kalau tidak berkenan.
Sarmedi

Wednesday, September 8, 2010 2:28 AM "S.K. Sebayang" <sksebayang@yahoo.com>

Mohon maafkan kebodohan saya. Tapi saya tidak mengerti kenapa hal ini menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Apakah itu bukan berarti seperti upaya mematikan api kompor di rumah tetangga dengan memanggil pemadam kebakaran? Bukankah desentralisasi memberikan kuasa kepada pemerintah daerah untuk mengatur daerahnya sendiri?  Urusan apakah ada raja-raja kecil di daerah adalah konsekuensi dari rakyat pemilih kepala daerahnya masing-masing.  Menurut saya persoalan yg dialami oleh dr PTT di Papua tersebut adalah urusan kelemahan managerial yang kronis di Dinas Kesehatan dan Bupati.  Dan saya yakin itu bisa terjadi di mana saja, tidak hanya di daerah dalam kasus ini.  Dari contoh kasus tersebut sepertinya pihak Dinas Kesehatan tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) bahwa Kepala Puskesmas tidak turun ke lapangan.  Bagaimana bisa terjadi Kabid dan Penanggung jawab program tidak tahu apa yang terjadi di lapangan?  (Saya lihat email tulisan tersebut diforward oleh dinkesgk@yahoo.com.  Kalau email ini adalah email dinas kesehatan di tempat dr ? bekerja, mudah-mudahan wilayah anda sudah melakukan peningkatan pengawasan semenjak email tersebut diforward)

Wednesday, September 8, 2010 4:18 AM    "bread_jackson@yahoo.com" <bread_jackson@yahoo.com>

Cerita hal tersebut banyak kita dengar dari teman-teman PTT yang berada di papua terutama di daerah sangat terpencil. Malah ada kabupaten "X" dimana bupati dan kadinkesnya bisa di hitung dengan jari berapa hari masuk dalam setahun dan lebih mudah di temui di kota provinsi.
Mind set orang asli setempat juga mempengaruhi kebijakan kesehatan.
Tetapi ada baiknya kemenkes membuka daun telinga lebar-lebar dan membuka mata sejauh mata memandang.

Wednesday, September 8, 2010 3:23 PM    "Billy N." <billy@mediator.web.id>

halo Pak Sebayang
Seingat saya, korupsi bukan delik aduan.
Selain itu, pemerintah pusat buat kebijakan & kebijakan itu yang jadi akar masalah seperti yang terjadi di Papua tersebut. Termasuk di antaranya soal 'dokter PTT' yang dasar hukumnya sampai sekarang buat saya nggak pernah jelas.
Selamat hari Idul Fitri bagi rekan-rekan yang merayakannya. Selamat berlibur bagi rekan-rekan semua.

 

Comments  

 
# Para Calon Dokter Itu Sombong SekaliLuis 2014-03-31 02:19
Nice post. I learn something totally new and challenging
on blogs I stumbleupon on a daily basis. It's always helpful to read through articles from
other writers and practice something from their web sites.



My blog :: the brownies
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment


RocketTheme Joomla Templates